Shine in The Dark
Sebuah cerita yang mengisahkan perjalanan 9 orang anak
remaja yang menjadi sahabat karib, mereka menjalin persahabatan mereka semenjak
mereka menjadi siswa di salah satu sekolah.
Layaknya manusia pada umumnya, mereka tentu punya karakter yang berbeda 1 dengan yang lain.
Ada yang temprament,melankholis, egois, pendiam. Dan itu menjadi keberagaman diantara persahabatan mereka.
Mereka membentuk sebuah tim. Tim ini terdiri dari Anisa, Sherly, Viola, Bella, Yuli, Shella, Cindy, vhiny ,dan Sania.
Besok mereka akan mengadakan ujian mid semester. Seperti yang biasa mereka lakukan, mereka berkumpul di satu tempat untuk belajar bersama.
"Besok kan ada ujian, kita belajar dimana?" Tanya Anisa pada teman-temannya yang tengah asyik bercerita sembari menikmati snack di kantin sekolah.
"Hmm.. gimana kalau di rumah aku aja? Kan kita belum pernah belajar di rumah ku?" Sahut Viola.
"Eh.. kok dirumah kamu sih?" Tiba-tiba saja Yuli menyela pembicaraan.
"Emang kenapa Yul, kan kita belum pernah belajar bersama di rumah ku." Jawab viola.
" ya, tapi kan rumah kamu itu jauh. Emang kamu mau bayarin ongkos kita ke rumah kamu?" Ucap Yuli. Yuli memang sedikit keras kepala, dia sering kali menolak untuk menerima ide teman-temannya.
"Ya bener juga sih kata Yuli. Rumah kamu kan jauh Vio." Sahut Bella.
"Tapi kan.." belum selesai viola berbicara Yuli langsung memotong.
"Eh, viola. Harusnya kamu ngerti dong. Kita itu ada 9 orang. Rumah kamu jauh, emang kamu mau bayarin ongkos kita semua? Kamu pikirin kita juga lah." Ucap Yuli. Wajah Yuli tampak memerah, dia sangat kesal terhadap Viola.
Tak kuasa melihat kejadian itu, Vhiny pun angkat bicara.
"Kita ini kan teman? Masa hanya gara-gara hal kecil seperti ini kita harus bertengkar? Untuk apa kita buat tim kalau kita harus selalu bertengkar?" Ucap Vhiny.
Vhiny adalah orang yang selalu bisa diandalkan disaat-saat seperti itu. Dia memiliki pemikiran dewasa dan mampu meredakan suasana kegaduhan diantara teman-temannya.
"Jadi gimana nih keputusannya?" Ucap Shela yang tampaknya sudah mulai
bosan memlerhatikan pertengkaran itu. Layaknya manusia pada umumnya, mereka tentu punya karakter yang berbeda 1 dengan yang lain.
Ada yang temprament,melankholis, egois, pendiam. Dan itu menjadi keberagaman diantara persahabatan mereka.
Mereka membentuk sebuah tim. Tim ini terdiri dari Anisa, Sherly, Viola, Bella, Yuli, Shella, Cindy, vhiny ,dan Sania.
Besok mereka akan mengadakan ujian mid semester. Seperti yang biasa mereka lakukan, mereka berkumpul di satu tempat untuk belajar bersama.
"Besok kan ada ujian, kita belajar dimana?" Tanya Anisa pada teman-temannya yang tengah asyik bercerita sembari menikmati snack di kantin sekolah.
"Hmm.. gimana kalau di rumah aku aja? Kan kita belum pernah belajar di rumah ku?" Sahut Viola.
"Eh.. kok dirumah kamu sih?" Tiba-tiba saja Yuli menyela pembicaraan.
"Emang kenapa Yul, kan kita belum pernah belajar bersama di rumah ku." Jawab viola.
" ya, tapi kan rumah kamu itu jauh. Emang kamu mau bayarin ongkos kita ke rumah kamu?" Ucap Yuli. Yuli memang sedikit keras kepala, dia sering kali menolak untuk menerima ide teman-temannya.
"Ya bener juga sih kata Yuli. Rumah kamu kan jauh Vio." Sahut Bella.
"Tapi kan.." belum selesai viola berbicara Yuli langsung memotong.
"Eh, viola. Harusnya kamu ngerti dong. Kita itu ada 9 orang. Rumah kamu jauh, emang kamu mau bayarin ongkos kita semua? Kamu pikirin kita juga lah." Ucap Yuli. Wajah Yuli tampak memerah, dia sangat kesal terhadap Viola.
Tak kuasa melihat kejadian itu, Vhiny pun angkat bicara.
"Kita ini kan teman? Masa hanya gara-gara hal kecil seperti ini kita harus bertengkar? Untuk apa kita buat tim kalau kita harus selalu bertengkar?" Ucap Vhiny.
Vhiny adalah orang yang selalu bisa diandalkan disaat-saat seperti itu. Dia memiliki pemikiran dewasa dan mampu meredakan suasana kegaduhan diantara teman-temannya.
"Gini aja deh, daripada kita selalu bertengkar seperti ini, lebih baik aku keluar aja dari tim ini. Aku gak mau pertemanan ini hancur hanya karena aku." Jawab viola seraya ia mengusap air matanya.
"Baguslah kalau kamu sadar" sahut Yuli.
"Gak ada yang akan keluar dari tim ini. Setiap masalah pasti ada solusinya. Dan mengundurkan diri dari grup bukan solusi yang baik." Jawab Vhiny.
"Biarin ajalah vhin, kan itu kemauan dia" ucap Yuli.
"Gak boleh gitu Yul, kita semua teman. Kalau 1 keluar dari tim maka lebih baik tim ini di bubarkan saja" jawab Vhiny.
"Hemm terserah lah" jawab Yuli singkat.
"Gini aja deh, kita belajar dikantin sekolah saja sehabis pulang sekolah. Gimana? " ucap Vhiny memberi ide.
"Boleh juga." Sahut Shella.
Ketika mereka tengah asyik berbincang, Sherly, Cindy, dan Sania datang menghampiri mereka.
"Hey.. lagi pada ngomongin apa nih" ucap Sania sembari ia duduk disamping teman-temannya.
"Iya nih, kayaknya serius banget" tambah Sherly.
"Kita lagi bahas tentang ujian besok. Tadi kita udah rembukkan dan keputusannya kita akan belajar bersama di kantin sepulang sekolah." Jawab Vhiny.
"Ohh gitu, bagus lah" jawab Cindy.
Tet.. Tet.. Tet..
Bel sekolah berbunyi pertanda waktu istirahat telah selesai. Mereka bergegas masuk ke kelas masing-masing.
Hari ini sekolah itu kedatangan guru baru. Lebih tepatnya guru agama kristen. Guru ini masuk ke kelas Vhiny karena kebetulan mereka tengah belajar agama.
"Selamat siang anak-anak." Ucap pak Boby selaku guru agama kristen di sekolah itu.
"Selamat siang pak." Semua murid serentak menjawab salam itu.
Para siswa terlihat kebingungan melihat ada orang baru di kelas mereka. Tanpa basa-basi pak Boby memberi waktu untuk memperkenalkan diri.
"Baik, mungkin kalian semua bingung dan penasaran siapa saya dan apa yang akan saya lakukan disini."
" Nama saya Jeremy. Kalian bisa panggil saya pak Jer. Disini saya akan mengajar mata pelajaran agama kristen. Saya kira cukup sekian perkenalan saya, untuk lebih detailnya kita bisa bahas dilain waktu." Begitulah pak Jeremy memperkenalkan diri kepada siswa dikelas itu.
Pelajaran pun dimulai, pak Jeremy mulai mengajar di kelas itu. Para diswa tampak begitu antusias menerima pelajaran yang disampaikan pak Jeremy. Termasuk juga Vhiny. Ia begitu kagum kepada sosok pak Jeremy, ia sangat terkesan dengan cara penyampain pelajaran yang dilakukan pak Jeremy.
Sepulang sekolah , semua anggota tim berkumpul dikantin sekolah untuk belajar bersama.
"Eh kalian udah tahu belum kalau disekolah kita ada guru agama kristen yang baru, Nama nya pak Jeremy. Aku sangat terkesan dengan cara mengajar bapak itu." Ucap Vhiny memulai pembicaraan.
"Ah. Masa iya? Kok aku gak tahu?"
"Iya aku juga gak tahu" ucap teman-temannya.
"Ya tadi bapak itu hanya masuk ke kelas ku aja. Karena kebetulan kami belajar agama." Ucap Vhiny.
" Ohh gitu, aku jadi penasaran sama bapak itu" ucap Shella.
"Iya aku juga " sahut Viola.
"Hari sabtu kan kita ada ibadah bersama di sekolah. Gimana kalau sehabis ibadah kita jumpain bapak itu? " ucap Cindy memberi usulan.
" Wah ide bagus tuh" jawab Yuli.
"Ya udah, kalau gitu kita lanjut belajar dulu ya. Biar kita bisa segera pulang" ucap Vhiny.
Mereka pun belajar bersama di kantin sekolah. Mereka saling bertanya apa yang tak mereka pahami dari pelajaran yang telah mereka terima. Waktu terus berlalu, hari mulai petang. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
Keesokan hari nya, disekolah ujian mid semesterpun diadakan. Para siswa tampak begitu serius dalam menjalani ujian mid semester ini termasuk juga semua anggota grup Synthetic. Mereka menghadapi ujian itu dengan tenang karena sebelumnya mereka sudah belajar bersama.
Tet.. Tet.. Tet..
Bel pun berbunyi pertanda ujian berakhir. Seluruh siswa meninggalkan ruangan kelas, sementara para guru memeriksa hasil ujian mereka. ,Vhiny dan semua anggota tim nya berkumpul di kantin sementara menunggu hasil ujian mereka diumumkan.
"Gimana ujian tadi? Kalian bisa jawab semua gak?" Tanya Shella.
"Bisa dong. Kan semalam kita udah belajar bersama di kantin." Jawab Sherly.
"Yup bener tuh kata Sherly." Tambah Viola.
" eh kamu kenapa Cin? Kok pucat gitu?" Tanya Yuli yang sedari tadi memperhatikan Cindy yang tampak lemas.
" aku gak enak badan Yul. Tadi juga pas ujian, aku gak bisa jawab semua. Kepala ku pusing" jawab Cindy.
"Ohh gitu, kamu udah berobat?" Tanya Vhiny.
" udah kok." Jawab Cindy kembali.
"Ya udah, kamu jangan khawatir masalah ujian kamu. Kami tahu kok, kalau kamu gak sakit pasti kamu bisa jawab semua soal-soal itu." Jawab Anisa.
"Makasih ya teman-teman" ucap Cindy.
Begitulah mereka menjalani hari-hari mereka. Saling menopang dan saling mendukung satu sama lain. Meski terkadang mereka bertengkar karena perbedaan pendapat, namun mereka selalu bisa mengatasi semua masalah itu.
Seperti biasanya setiap akhir pekan siswa/siswi kristen di sekolah itu mengadakan ibadah bersama. Anisa dan teman-temannya tidak pernah absen dalam ibadah setiap akhir pekan. Mereka anak-anak yang begitu taat beribadah dan melayani Tuhan.
Setiap ibadah mereka selalu ambil bagian dalam pelayanan ibadah itu, ada yang menjadi kolektan maupun singer secara bergiliran.
Melihat mereka yang begitu kompak dan tekun melayani, selepas ibadah pak Jeremy menghampiri mereka.
" Nak, bapak lihat kalian begitu kompak dan juga tekun dalam beribadah. Bapak bangga menjadi guru disekolah ini dan bapak bangga punya siswi seperti kalian. Oh ya, bapak mau tanya kalian kan tidak satu kelas, bagaimana kalian bisa sekompak ini?" Tanya pak jeremy.
Tampaknya pak jeremy selalu memperhatikan mereka yang selalu bersama di waktu istirahat dan sepulang sekolah.
" kami ini tim pak. Dan kami ada sembilan orang yang berlainan kelas. Tapi meski begitu kami tetap akrab" jawab Vhiny.
"Ya pak, bener kata Vhiny. Tapi terkadang kami bertengkar bahkan saling diam karena perbedaan pendapat" ucap viola.
Pak jeremy tersenyum mendengar jawaban viola.
" begini nak, perbedaan itu wajar. Terlebih kalian ada 9 orang yang tentunya punya karakter yang berbeda dan pola pikir yang berbeda pula. Sebagai tim kalian harus bisa merubah perbedaan itu menjadi satu keharmonisan di dalam tim kalian ini. Sehingga orang yang melihat kalian akan merasa kagum atas kekompakan yang kalian jalin." Ucap pak jeremy.
Mendengar nasehat pak Jeremy, mereka merasa sangat kagum terhadap sosok pak Jeremy. Dan mereka memutuskan untuk menjadikan pak Jeremy sebagai bapak tim mereka. Dan sejak saat itu pula, mereka selalu meminta nasehat dari pak jeremy jika mereka menghadapi masalah pribadi maupun masalah diantara anggota tim.
waktu terus berlalu dan pertemanan mereka semakin akrab terlebih sejak pak Jeremy mengajar di sekolah itu.
Dan tepat pada 9 januari mereka memutuskan untuk memberi nama tim mereka yaitu Syntetic.
Dan dengan nama baru itu pula, kekompakan mereka semakin diketahui oleh banyak orang dan bahkan guru-guru disekolah itu. Banyak yang mengagumi kekompakan mereka. Disamping itu, mereka adalah siswi-siswi berprestasi. Mereka selalu meraih gelar juara di kelas mereka. Dan itu menjadi 1 point lebih yang membuat mereka semakin dikenal di sekolah itu.
Selain prestasi yang gemilang, mereka juga aktif dalam pelayanan ibadah remaja sekolah. Sehingga guru-guru dari sekolah lain juga mengenal mereka. Sungguh sebuah kebanggaan bagi guru dan orang tua mereka dimana dimasa mudanya mereka mampu menjadi berkat.
Tepat pada 1 january 2019 mereka merayakan anniversary tim mereka setelah genap 1 tahun. Dan di saat itu pula guru mereka mengubah nama tim mereka menjadi SYNTHETIC HARMONY.
Mereka bangga atas apa yang mereka jalani dan semua prestasi yang mereka raih. Mereka mampu menjadi terang dimasa muda mereka meski banyak anak muda diluar sana yang menghabiskan hidupnya untuk kesia-siaan.
Seperti kata pepatah " ada pertemuan maka ada perpisahan" begitu lah kenyataan pahit yang harus mereka terima. Pak Jeremy pindah tugas ke Kota Ambon. Dan mereka harus merelakan sosok bapak yang begitu mereka cintai. Bapak yang selalu ada bersama mereka, mendengar keluhan mereka, bapak yang selalu menasehati dan menjadi panutan mereka.
Mereka sangat sedih karena mereka harus menjalani persahabatan mereka tanpa sosok bapak yang menjadi panutan mereka.
Karena kesedihan yang mendalam, mereka tidak mau bertemu dengan pak Jeremy. Mereka merasa pak jeremy tak menyayangi mereka lagi sehingga pak jeremy meninggalkan mereka.
Namun apa mau dikata, semua harus terjadi. Rela atau tidak mereka harus menerima semua kenyataan itu. Sebelum acara perpisahan, mereka mempersiapkan sebuah lagu untuk mereka nyanyikan pada saat acara perpisahan dengan pak Jeremy.
Mereka berkumpul di kantin sekolah dan mulai membahas
rencana mereka
“gimana ini teman-teman, pak Jeremy kan sebentar lagi akan
pergi ke Ambon. Kita kasih kado gaka sama bapak itu?” ucap Anisa.
“wah bener juga tuh Nis, biar bagaimana pun pak Jeremy kan
bapak kita. Kita harus berikan hadiah terindah yang gak akan pernah dilupakan
pak Jeremy” ujar Viola.
“gimana kalau saat acara perpisahan nanti kita nyanyi aja”
sahut Sherly.
Dan mereka pun sepakat untuk bernyanyi disaat acara
perpisahan sekolah dengan pak Jeremy. Dan disaat perpisahan pak jeremy di
sekolah mereka menyanyikan sebuah lagu yang mereka persiapkan untuk acara
perpisahan pak jeremy. Lagu itu berjudul AKU PERGI.
Mereka mennyanyikan lagu itu dihadapan semua guru dan siswa termasuk juga pak jeremy. Terkadang mereka meneteskan air mata yang tak bisa mereka bendung.
Melihat itu, banyak orang ikut menangis. Banyak orang tersentuh atas lagu mereka terlebih mereka tahu bagaimana kekompakan sembilan siswi itu dengan pak jeremy.
Tiba saatnya guru itu berangkat, mereka memutuskan untuk meminta izin ke sekolah agar mereka bisa ikut mengantar pak jeremy. Namun apa daya mereka tidak mendapatkan izin dari sekolah.
Meski begitu mereka tidak menyerah begitu saja, kekompakan mereka tetap terjalin. Mereka memutuskan untuk bolos sekolah agar bisa mengantar pak jeremy.
“Pak, jangan pernah lupa sama kami ya. Meskipun kita gak bisa lagi bersama-sama tapi kita semua harus tetap saling terikat” ujar Yuli.
Mereka mennyanyikan lagu itu dihadapan semua guru dan siswa termasuk juga pak jeremy. Terkadang mereka meneteskan air mata yang tak bisa mereka bendung.
Melihat itu, banyak orang ikut menangis. Banyak orang tersentuh atas lagu mereka terlebih mereka tahu bagaimana kekompakan sembilan siswi itu dengan pak jeremy.
Tiba saatnya guru itu berangkat, mereka memutuskan untuk meminta izin ke sekolah agar mereka bisa ikut mengantar pak jeremy. Namun apa daya mereka tidak mendapatkan izin dari sekolah.
Meski begitu mereka tidak menyerah begitu saja, kekompakan mereka tetap terjalin. Mereka memutuskan untuk bolos sekolah agar bisa mengantar pak jeremy.
“Pak, jangan pernah lupa sama kami ya. Meskipun kita gak bisa lagi bersama-sama tapi kita semua harus tetap saling terikat” ujar Yuli.
“Ya pak, tetap melayani Tuhan ya pak. Doakan kami disini
pak. Semoga kami semakin bertumbuh dan semakin giat melayani Tuhan” ucap Viola.
“Ya nak, itu pasti. Bapak akan selalu mendoakan kalian,
tetaplah menjadi anak yang takut akan Tuhan, setia melayani Tuhan, teruslah
berprestasi. Dan tetap jaga nama baik Synthetic Harmony. Kalian harus tetap
kompak meski bapak sudah tidak bersama kalian lagi” ucap Pak Jeremy.
Dan air mata menjadi bukti kesedihan dan kerinduan mereka kepada pak Jeremy. Sebelum pak Jeremy pergi, mereka memeluknya dan menangis.
Dan air mata menjadi bukti kesedihan dan kerinduan mereka kepada pak Jeremy. Sebelum pak Jeremy pergi, mereka memeluknya dan menangis.
Dan kini meskipun mereka sudah berjauhan dan tak bisa
bersama lagi seperti dulu, mereka selalu menjalin komunikasi dengan pak Jeremy.
Persahabatan mereka pun tetap erat hingga kini. Takkan ada badai yang bisa
menggoncang kekuatan persahabatan mereka. Meski jarak memisahkan namun indahnya
persahabatan akan selalu terasa.



Indah Dan salut dengan persahabatan mereka meskipun Ada perbedaan diantara satu sama lain Dan pada akhirnya 1 sosok Yang Ada buat mereka pergi ��
BalasHapusNanti aku baca
BalasHapus